Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) terus mendorong kebutuhan terhadap pusat data berkapasitas besar. Namun, di Amerika Serikat, pembangunan pusat data AI menghadapi persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu keterbatasan akses ke jaringan listrik.
Melihat kondisi tersebut, sejumlah perusahaan teknologi besar mulai mencari solusi. NVIDIA, Emerald AI, dan Google kini membentuk koalisi bernama AI Energy Management Alliance (AEMA). Kelompok ini dibentuk untuk mendorong penggunaan pusat data AI yang lebih fleksibel sehingga keberadaannya tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap jaringan listrik.
Selain itu, AEMA ingin mendorong model pusat data yang tidak selalu membutuhkan pembangunan infrastruktur listrik baru dalam skala besar. Dengan begitu, kebutuhan peningkatan kapasitas jaringan yang berpotensi menggunakan dana publik dapat ditekan.
Advertisement
Sebagai gantinya, koalisi tersebut mendorong perusahaan utilitas untuk memberikan akses jaringan listrik kepada pusat data yang memenuhi persyaratan fleksibilitas secara lebih cepat.
Mengutip Engadget, Kamis (17/9), NVIDIA menjelaskan melalui unggahan di blog resminya bahwa sistem kelistrikan di AS pada awalnya dirancang untuk menghadapi pola permintaan yang relatif stabil dan mudah diprediksi.
Namun, situasinya kini berubah. Pertumbuhan komputasi AI membuat kebutuhan listrik meningkat dengan cepat. Pusat data modern juga membutuhkan daya dalam jumlah besar, tetapi pada saat yang sama sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengatur kapan dan bagaimana sebagian beban komputasinya digunakan.
Advertisement
Karena itu, AEMA ingin membuat standar bagi pusat data yang mampu menyesuaikan penggunaan energinya berdasarkan kondisi jaringan listrik. Beban komputasi dapat dipindahkan ke waktu tertentu, sementara pekerjaan yang tidak mendesak bisa ditunda ketika jaringan sedang mengalami tekanan.
Dengan pendekatan tersebut, pusat data diharapkan tidak lagi dipandang sekadar sebagai beban tetap bagi jaringan listrik. Sebaliknya, fasilitas tersebut dapat berperan sebagai sumber daya yang bisa dikendalikan sesuai kebutuhan sistem.
Pusat Data AI Bisa Menunggu Bertahun-tahun
Sementara itu, Emerald AI memberikan gambaran mengenai persoalan yang dihadapi industri pusat data di AS. CEO Emerald AI Varun Sivaram mengatakan fasilitas pusat data baru dapat membutuhkan waktu hingga satu dekade atau bahkan lebih untuk memperoleh sambungan ke jaringan listrik.
Advertisement
Masalahnya, perusahaan utilitas harus memastikan kapasitas listrik yang tersedia mampu memenuhi kebutuhan pelanggan, terutama ketika permintaan berada pada titik tertinggi.
Kondisi tersebut biasanya terjadi pada periode tertentu, misalnya ketika cuaca sangat panas dan penggunaan pendingin ruangan meningkat secara bersamaan. Pada saat seperti itu, jaringan listrik harus memiliki cadangan kapasitas yang cukup untuk mencegah gangguan pasokan.
Namun, di luar periode beban puncak, sebagian besar kapasitas jaringan sebenarnya tidak digunakan secara maksimal.
Advertisement
Menurut Sivaram, jaringan listrik AS rata-rata hanya dimanfaatkan sekitar 50 persen. Oleh karena itu, apabila pusat data AI mampu mengurangi penggunaan listrik atau menyesuaikan aktivitas komputasinya pada periode paling sibuk, kapasitas yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan lebih optimal.
Ia memperkirakan pendekatan tersebut berpotensi membuka hingga 100 gigawatt (GW) kapasitas jaringan yang saat ini sudah tersedia bagi pusat data fleksibel.
Untuk mewujudkannya, AEMA mengusulkan sejumlah aturan dan standar. Salah satunya adalah memastikan pusat data tetap terhubung ketika terjadi gangguan jaringan listrik dalam waktu singkat, tetapi mampu mengurangi konsumsi energi apabila kondisi jaringan membutuhkan.
Advertisement
Selain itu, pusat data juga diharapkan dapat merespons keadaan darurat dengan cepat. Persyaratan teknis, indikator kinerja, hingga mekanisme berbagi data operasional nantinya akan dibuat lebih seragam.
Dengan adanya standar tersebut, perusahaan utilitas dapat lebih mudah menilai kemampuan sebuah pusat data dalam mengelola konsumsi energinya. Sebagai imbalannya, fasilitas yang memenuhi persyaratan berpotensi memperoleh sambungan listrik lebih cepat.
Baterai hingga Perangkat Lunak Pengatur Beban
AEMA juga mendorong penggunaan sejumlah teknologi untuk membuat pusat data lebih fleksibel.
Advertisement
Salah satunya adalah baterai yang dapat menyuplai energi ketika jaringan listrik sedang menghadapi beban puncak. Selain itu, pusat data dapat menggunakan pembangkit listrik di lokasi untuk membantu memenuhi kebutuhan energi pada kondisi tertentu.
Tidak hanya perangkat keras, perangkat lunak juga menjadi bagian penting dari konsep tersebut. Sistem pengelolaan energi dapat mengatur pekerjaan komputasi berdasarkan tingkat urgensinya.
Misalnya, tugas yang tidak mendesak dapat diperlambat, dihentikan sementara, atau dipindahkan ke waktu ketika permintaan listrik lebih rendah. Dengan demikian, pusat data tetap beroperasi tanpa harus selalu menggunakan daya maksimum.
Advertisement
Di sisi lain, pembentukan AEMA juga muncul ketika keberadaan pusat data AI semakin mendapat perhatian publik. Fasilitas-fasilitas tersebut membutuhkan energi dalam jumlah besar dan memunculkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat di sekitarnya.
Namun, AEMA sejauh ini lebih berfokus pada persoalan fleksibilitas konsumsi listrik dan percepatan koneksi ke jaringan. Koalisi tersebut belum secara khusus membahas berbagai persoalan lain seperti emisi, konsumsi energi secara keseluruhan, kebisingan, maupun gangguan terhadap komunitas yang berada di sekitar pusat data.
Meski begitu, AEMA berharap konsep pusat data fleksibel dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan industri AI dan keterbatasan infrastruktur listrik.
Advertisement
Sivaram mengatakan pihaknya akan membawa gagasan tersebut kepada pemerintah negara bagian maupun pemerintah federal di Washington. Mereka ingin regulator dan pembuat kebijakan memberikan akses jaringan yang lebih cepat dan luas kepada pusat data yang bersedia memenuhi standar fleksibilitas.
Dengan demikian, pertumbuhan pusat data AI tidak harus selalu diikuti pembangunan jaringan listrik baru dalam skala besar. Sebaliknya, kapasitas yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efisien, sementara pusat data tetap mendapatkan akses energi yang dibutuhkan untuk mendukung perkembangan teknologi AI.
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di
Google News.
Baca berita otomotif untuk perempuan di
Otodiva.id,
kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi
Gizmologi.id.
Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca
Traveldiva.id.
NVIDIA dan Google Bentuk Koalisi AEMA, Dorong Pusat Data AI Terhubung Listrik Lebih Cepat – Firda Zahara