Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah menasihati Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi untuk berhati-hati dan menghindari memprovokasi Tiongkok terkait masalah kedaulatan Taiwan yang kontroversial, menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip pejabat Jepang dan seorang Amerika yang diberi pengarahan tentang panggilan tersebut.
Nasihat tersebut, yang digambarkan sebagai “halus,” disampaikan selama percakapan telepon baru-baru ini antara kedua pemimpin. Hal ini terjadi di tengah perselisihan diplomatik yang signifikan antara Tokyo dan Beijing, yang dipicu awal bulan ini oleh pernyataan Takaichi di parlemen Jepang yang menyarankan bahwa serangan hipotetis Tiongkok terhadap Taiwan dapat dianggap sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” bagi Jepang, yang berpotensi melibatkan Pasukan Bela Diri (Self-Defense Forces) negara itu.
Reaksi Balik Beijing dan Kekhawatiran AS
Komentar Perdana Menteri Takaichi menuai tanggapan marah dari Tiongkok, yang memandang Taiwan sebagai provinsi pemberontak yang harus disatukan kembali dengan daratan, dengan paksa jika perlu. Beijing telah mengajukan protes resmi, memanggil duta besar Jepang, dan bahkan mengeluarkan peringatan kepada warga negara Tiongkok tentang bepergian ke Jepang.
Waktu terjadinya keretakan diplomatik ini sangat sensitif bagi Gedung Putih. Percakapan Presiden Trump dengan Takaichi pada 25 November segera menyusul panggilan telepon dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Sumber-sumber menunjukkan bahwa motivasi utama Presiden Trump untuk memberikan nasihat tersebut adalah untuk mencegah ketegangan Jepang-Tiongkok membahayakan detente rapuh dan perjanjian perdagangan yang telah ia kembangkan dengan Presiden Xi, termasuk janji pembelian signifikan produk pertanian Amerika oleh Tiongkok.
“Hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok sangat baik, dan itu juga sangat baik untuk Jepang, yang merupakan sekutu dekat dan tersayang kami,” kata Gedung Putih, yang mencerminkan keinginan untuk mempertahankan stabilitas regional dan melindungi hubungan AS-Tiongkok yang lebih luas.
Dilema Tokyo
Para pejabat Jepang, menurut laporan WSJ, menganggap pesan Presiden Trump mengkhawatirkan. Hal ini menunjukkan bahwa, dalam tindakan penyeimbangan strategis yang kompleks, Presiden AS memprioritaskan mempertahankan hubungan perdagangan dan diplomatiknya dengan Beijing daripada sepenuhnya mendukung sikap tegas Tokyo terhadap Taiwan.
Sikap Takaichi: Pernyataan Perdana Menteri mencerminkan meningkatnya kekhawatiran keamanan Jepang atas kemungkinan kontingensi Taiwan, yang tidak diragukan lagi akan memengaruhi keamanan dan jalur laut kritisnya sendiri.
Kendala Politik: Sementara Tiongkok menuntut penarikan kembali, Takaichi dilaporkan terikat oleh politik domestik dan sifat kebijakan jangka panjang dari komentarnya, sehingga sulit untuk melakukan pembalikan penuh.
“Alat atau Kartu”: Insiden ini telah memperbarui kecemasan yang sudah lama dipegang di Tokyo bahwa AS, di bawah Presiden Trump, mungkin memandang kepentingan keamanan sekutunya sebagai hal sekunder di bandingkan dengan urusannya sendiri dengan Tiongkok.
🤝 Kegelisahan Aliansi
Meskipun ada nasihat halus untuk meredakan ketegangan, kedua pemimpin mengonfirmasi komitmen untuk kerja sama erat Jepang-AS selama pembicaraan telepon mereka. Namun, laporan tersebut menggarisbawahi ketegangan mendasar dalam aliansi AS-Jepang mengenai Selat Taiwan. Sementara AS adalah penjamin keamanan utama Jepang, para pejabat Tokyo dilaporkan ingin sekali mendapatkan dukungan yang lebih eksplisit dari sekutu mereka dalam menghadapi “pemaksaan” Tiongkok.
Untuk saat ini, kantor Perdana Menteri Jepang menahan diri untuk tidak menguraikan rincian panggilan tersebut, terutama mengenai diskusi tentang Taiwan. Situasi tersebut membuat Jepang menavigasi tali diplomatik yang rumit antara kekhawatiran keamanan nasionalnya sendiri dan tujuan AS yang lebih luas untuk menjaga ketenangan regional, terutama antara dua mitra utamanya di Pasifik.


