{"id":3517,"date":"2026-07-14T07:15:23","date_gmt":"2026-07-14T07:15:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jobenka.com\/all\/dampak-buruk-tiktokisasi-dan-alasan-di-balik-larangan-medsos-anak-di-inggris\/"},"modified":"2026-07-14T07:15:23","modified_gmt":"2026-07-14T07:15:23","slug":"dampak-buruk-tiktokisasi-dan-alasan-di-balik-larangan-medsos-anak-di-inggris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jobenka.com\/all\/dampak-buruk-tiktokisasi-dan-alasan-di-balik-larangan-medsos-anak-di-inggris\/","title":{"rendered":"Dampak Buruk \u2018TikTokisasi\u2019 dan Alasan di Balik Larangan Medsos Anak di Inggris"},"content":{"rendered":"<div>\n<div><\/div>\n<p><?xml encoding=\"UTF-8\"???><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemerintah Inggris secara resmi telah mengambil langkah tegas dengan melarang penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan radikal ini diambil sebagai respons langsung terhadap kecemasan publik atas sifat adiktif dari konten video pendek yang kian meresahkan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bLangkah hukum tersebut sengaja dirancang untuk mengatasi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh ekosistem digital saat ini. Salah satu fokus utamanya adalah menyelamatkan rentang perhatian (<em>attention span<\/em>) generasi muda yang dilaporkan terus merosot akibat paparan visual secara terus-menerus.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bKendati demikian, kebijakan pemblokiran ini dinilai menghadapi jalan terjal akibat fenomena yang dikenal sebagai <em>TikTokification<\/em> atau \u201cTikTokisasi\u201d yang merambah berbagai platform lain. Ekspansi format video pendek ke seluruh penjuru internet ini berpotensi merusak dan menggagalkan dampak positif yang diharapkan dari larangan tersebut.<\/p>\n<div class=\"baca-juga-ad\">\n<p>        <ins class=\"adsbygoogle\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-5949640052836324\" data-ad-slot=\"3985553485\"><\/ins><\/p>\n<p class=\"ad-label\">Advertisement<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bDampak buruk dari pergeseran format digital ini nyatanya tidak lagi memandang usia. Realitas yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa degradasi kualitas pengalaman berselancar di internet kini mulai dirasakan oleh seluruh kelompok umur, bukan hanya anak-anak.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bIstilah TikTokisasi sendiri merujuk pada adopsi massal format video vertikal berdurasi singkat yang dipopulerkan oleh platform asal Tiongkok tersebut. Begitu kuatnya dominasi tren ini hingga nama aplikasinya kini menjadi sinonim global untuk jenis konten visual cepat saji di dunia maya.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bKeberhasilan formula video pendek ini kemudian memicu lahirnya puluhan platform tiruan di berbagai sudut internet karena sifatnya yang sangat sulit untuk ditolak oleh psikologis manusia. Setiap konten disajikan dalam porsi kecil, langsung berputar otomatis, dan sejak awal memang dirancang untuk menciptakan ketergantungan.<\/p>\n<div class=\"baca-juga-ad\">\n<p>        <ins class=\"adsbygoogle\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-5949640052836324\" data-ad-slot=\"3985553485\"><\/ins><\/p>\n<p class=\"ad-label\">Advertisement<\/p>\n<\/p><\/div>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bSecara ilmiah, daya pikat format ini terletak pada kemudahan navigasi di mana video selanjutnya selalu siap tersaji hanya dengan satu usapan layar. Ketidakpastian mengenai konten apa yang akan muncul berikutnya terbukti memicu lonjakan dopamin, hormon yang bertanggung jawab atas rasa senang pada otak manusia.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u200bEfek neurosains inilah yang menjadi alasan utama mengapa jutaan pengguna internet terus kembali dan terikat pada layar gawai mereka. Ketika tren ini mulai diadopsi oleh situs web di luar media sosial, kehadirannya murni menjadi alat pembajak perhatian tanpa memberikan nilai tambah yang berarti bagi konsumen.<\/p>\n<div class=\"baca-juga-ad\">\n<p>        <ins class=\"adsbygoogle\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-client=\"ca-pub-5949640052836324\" data-ad-slot=\"3985553485\"><\/ins><\/p>\n<p class=\"ad-label\">Advertisement<\/p>\n<\/p><\/div>\n<div>\n<p>\n                        Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di<br \/>\n                        Google News.<br \/>\n                        Baca berita otomotif untuk perempuan di<br \/>\n                        Otodiva.id,<br \/>\n                        kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi<br \/>\n                        Gizmologi.id.<br \/>\n                        Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca<br \/>\n                        Traveldiva.id.\n                    <\/p>\n<\/p><\/div>\n<\/div>\n<p><sub>Dampak Buruk \u2018TikTokisasi\u2019 dan Alasan di Balik Larangan Medsos Anak di Inggris &#8211; Siti Sarifah Aliah <\/sub><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah Inggris secara resmi telah mengambil langkah tegas dengan melarang penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan radikal ini diambil sebagai respons langsung terhadap kecemasan publik &#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3518,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"fifu_image_url":"https:\/\/thumb.gadgetdiva.id\/2026\/07\/How-to-download-TikTok-in-the-US-5.webp","fifu_image_alt":"Dampak Buruk \u2018TikTokisasi\u2019 dan Alasan di Balik Larangan Medsos Anak di Inggris","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[13],"class_list":["post-3517","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-baru","tag-tekno"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3517","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3517"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3517\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3518"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3517"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3517"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jobenka.com\/all\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3517"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}