Kemampuan talenta keamanan siber Indonesia dinilai semakin mampu bersaing di tingkat internasional. Hal itu terlihat dalam ajang Country to Country Capture The Flag (C2C-CTF) 2026 yang berlangsung di Bali pada 10–14 Agustus 2026.
Direktur Pelaksana Spentera Group, Royke L. Tobing, mengatakan keberhasilan perwakilan Indonesia menjadi bagian dari tim juara dalam kompetisi tersebut menjadi salah satu bukti bahwa sumber daya manusia di bidang keamanan siber memiliki daya saing global.
Menurut Royke, C2C-CTF bukanlah kompetisi yang mudah. Para peserta harus melewati proses seleksi dan kualifikasi yang melibatkan ratusan peserta sebelum akhirnya bertanding di babak final.
Advertisement
Selain kemampuan teknis, peserta juga dituntut mampu bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda, mulai dari negara, bahasa, universitas, hingga keahlian.
“Ini bukan kompetisi yang mudah. Untuk sampai ke final saja mereka harus melewati ratusan peserta,” ujar Royke dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.
Tak Sekadar Mengejar Hadiah
Lebih lanjut, Royke menilai nilai penting dari kompetisi keamanan siber tersebut tidak hanya terletak pada hadiah yang diberikan kepada pemenang. Menurutnya, pengalaman menghadapi berbagai persoalan keamanan digital secara langsung justru menjadi bekal yang lebih berharga bagi para peserta.
Advertisement
Dalam kompetisi tersebut, peserta dihadapkan pada berbagai simulasi yang menyerupai persoalan keamanan siber di dunia nyata. Mereka harus menemukan celah keamanan, memahami potensi serangan, serta menentukan langkah untuk mencegah dan mengatasinya.
Karena itu, peserta tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan teori. Mereka juga harus mampu berpikir cepat, teliti dalam menganalisis persoalan, memecahkan masalah, serta berkomunikasi secara efektif dengan anggota tim.
“Uang hadiah tentu membanggakan, tetapi yang jauh lebih berharga adalah pembuktian kemampuan,” kata Royke.
Advertisement
Ia menambahkan, kondisi kompetisi yang berlangsung di bawah tekanan membuat peserta harus mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Situasi tersebut dinilai dapat menjadi gambaran mengenai tantangan yang mungkin mereka hadapi ketika bekerja sebagai praktisi keamanan siber.
Ancaman Siber Tidak Mengenal Batas Negara
Menurut Royke, kompetisi seperti C2C-CTF memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta menghadapi ancaman keamanan digital yang semakin kompleks.
Pasalnya, serangan siber tidak mengenal batas wilayah. Serangan dapat berasal dari berbagai negara dan dampaknya dapat dirasakan oleh individu, perusahaan, maupun institusi di negara lain.
Advertisement
Oleh sebab itu, tenaga profesional keamanan siber tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis. Mereka juga harus mampu bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan orang dari berbagai latar belakang, memahami masalah dengan cepat, serta menentukan solusi yang tepat.
“Serangan siber bisa datang dari mana saja dan dampaknya juga bisa melintasi negara. Karena itu, orang yang akan berada di garis depan keamanan digital tidak cukup hanya hebat secara teknis,” jelas Royke.
Ia berharap prestasi yang diraih talenta Indonesia dalam C2C-CTF 2026 dapat menjadi momentum untuk memperluas kesempatan pengembangan sumber daya manusia di bidang keamanan siber.
Advertisement
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak talenta muda dengan kemampuan yang menjanjikan. Namun, mereka membutuhkan lebih banyak ruang untuk mengasah keterampilan melalui pelatihan, kompetisi, dan pengalaman langsung.
Diikuti 710 Peserta dari Berbagai Negara
C2C-CTF 2026 merupakan kompetisi keamanan siber internasional yang berada di bawah naungan International Cyber Security – Center of Excellence (INCS-CoE).
Dalam penyelenggaraannya, Fakultas Teknik Universitas Indonesia bertindak sebagai tuan rumah dengan Universitas Udayana sebagai mitra lokal.
Advertisement
Sementara itu, Hacktrace, bagian dari Spentera Group, menyediakan Hacktrace Ranges sebagai laboratorium virtual yang digunakan peserta untuk berlatih menghadapi simulasi serangan maupun mempertahankan sistem digital.
Fasilitas tersebut memiliki lebih dari 50 laboratorium untuk latihan menemukan dan menguji kelemahan sistem serta 20 laboratorium untuk latihan pertahanan sistem. Skenario yang tersedia dirancang menyerupai kondisi nyata dan telah digunakan oleh lebih dari 10.000 pengguna.
Kompetisi ini diikuti oleh perwakilan perguruan tinggi dari berbagai negara, antara lain University of Cambridge, Keio University, Royal Holloway University of London, Edith Cowan University, The University of Melbourne, Cambodia Academy of Digital Technology, National University of Laos, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung.
Advertisement
Pada tahap kualifikasi, tercatat 710 peserta mendaftar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 100 peserta dari 15 negara berhasil melaju ke babak final.
Menariknya, peserta final kemudian ditempatkan dalam tim lintas negara yang masing-masing terdiri atas lima orang. Dengan pola tersebut, kemampuan komunikasi dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan tim.
Dua Talenta Indonesia Masuk Tim Juara
Prestasi membanggakan akhirnya diraih oleh dua perwakilan Indonesia, yakni Jacinta Syilloam dari ITSN dan Bambang Priyanto dari Binus University.
Advertisement
Keduanya menjadi bagian dari tim yang berhasil keluar sebagai juara pertama C2C-CTF 2026. Tim tersebut berhak memperoleh hadiah sebesar 4.000 dolar AS atau sekitar Rp72 juta.
Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa talenta keamanan siber Indonesia memiliki peluang untuk bersaing dengan sumber daya manusia dari berbagai negara.
Ke depan, penguatan ekosistem pelatihan dan kompetisi keamanan siber dinilai penting agar semakin banyak talenta muda Indonesia yang memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan dan tampil di panggung internasional.
Advertisement
Dengan semakin luasnya ruang untuk belajar dan berkompetisi, talenta siber Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga mampu mencetak prestasi dan menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan keamanan digital global.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di
Google News.
Baca berita otomotif untuk perempuan di
Otodiva.id,
kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi
Gizmologi.id.
Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca
Traveldiva.id.
Talenta Siber Indonesia Buktikan Kemampuan di Kancah Dunia Lewat C2C-CTF 2026 – Firda Zahara