| Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad sidak ke gedung BEI |
| – Sejumlah pejabat tinggi negara dan pelaku industri pasar modal mendatangi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (19/5/2026).
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama CEO Danantara Rosan Roeslani terlihat hadir di tengah tekanan yang masih melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Selain keduanya, turut hadir Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria serta Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. Setibanya di lokasi, para pejabat tersebut langsung melakukan pertemuan secara tertutup untuk membahas kondisi pasar terkini.
Kunjungan ini terjadi saat IHSG kembali berada di zona merah pada awal perdagangan. Sekitar pukul 09.25 WIB, indeks tercatat melemah 0,35 persen ke level 6.576,07. Kondisi ini memperpanjang tekanan setelah sehari sebelumnya, Senin (18/5/2026), IHSG juga anjlok cukup dalam hingga 1,85 persen atau turun 124,07 poin ke posisi 6.599,24.
Dari data perdagangan, pergerakan saham masih didominasi tekanan jual. Pada sesi sebelumnya tercatat ratusan saham melemah dibandingkan yang menguat, dengan nilai transaksi harian mencapai Rp20,70 triliun. Kondisi tersebut turut menekan kapitalisasi pasar menjadi sekitar Rp11.562,86 triliun.
Pelemahan IHSG juga sejalan dengan pergerakan bursa di kawasan Asia Pasifik yang cenderung bervariasi. Bursa China dan Jepang kompak berada di zona merah, sementara pasar saham Singapura justru mencatat penguatan tipis.
Menanggapi kondisi tersebut, pihak BEI menilai penurunan yang terjadi masih dipengaruhi sentimen global, termasuk akumulasi pergerakan bursa internasional saat pasar domestik libur.
Otoritas bursa juga mengimbau investor untuk tetap tenang dan tidak terbawa aksi jual panik, serta tetap berpegang pada analisis fundamental dan profil risiko masing-masing.
BEI menegaskan bahwa kondisi koreksi saat ini berbeda dengan situasi krisis pasar di masa pandemi Covid-19. Dengan jumlah investor domestik yang terus meningkat hingga puluhan juta, pasar modal Indonesia dinilai masih berada dalam kondisi yang lebih kuat dan stabil.
Meski dihadapkan pada ketidakpastian global seperti fluktuasi harga komoditas, dinamika geopolitik, hingga pergerakan nilai tukar rupiah, BEI memastikan seluruh sistem perdagangan tetap berjalan normal, transparan, dan efisien sesuai mekanisme pasar.(da*)