Studi ini menemukan Indonesia termasuk dalam daftar negara paling tidak aman dari risiko fraud. Indonesia berada di peringkat ke-111 dengan index 6,53. Peringkat ini menjadikannya sebagai negara dengan tingkat penipuan tertinggi kedua setelah Pakistan.
Global Fraud Index 2025 sendiri mengukur tingkat ketahanan terhadap fraud di 112 negara berdasarkan empat pilar utama. Yakni, fraud activity, resource accessibility, goverment intervention dan economic health.
Advertisement
Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Teguh Arifiyadi menyatakan bahwa pihaknya telah menyadari Indonesia merupakan negara dengan tingkat penipuan terbesar kedua. Pihaknya tengah berupaya melakukan pencegahan.
“Kami dari sisi pemerintah sedang mengupayakan, mengkonsolidasi semua jalan-jalan upaya pencegahan dari masing-masing sektor. Misalnya, OJK punya IGC, Komdigi punya beberapa layanan untuk pencegahannya. Kemudian polri, swasta private yang memberikan layanan-layanan untuk pencegahan. Itu sedang kita upayakan, sehingga kampanyenya mulai kita buat terstruktur dan masif,” jelas Teguh di sela acara #CekDuluBaruPercaya pada Kamis (13/2).
Ke depannya pihaknya akan melakukan banyak kerja sama dengan swasta untuk menurunkan tingkat penipuan, kata Teguh. Dia turut menyoroti pentingnya penyusunan regulasi yang kuat.
Advertisement
Khususnya, regulasi terkait verifikasi seperti verifikasi nomor seluler, pengguna tanda tangan digital atau pengguna layanan pemerintah. Dia menilai, jika verifikasi digital berjalan baik, maka ekosistem juga akan baik.
Teguh turut mengungkap data dari Komdigi yang menemukan bahwa kasus-kasus penipuan didominasi oleh modus social engineering. Bukan dari infrastrukturnya.
“Kalau dari data kami ya, mayoritas kasus-kasus penipuan itu mungkin bisa lebih dari 70% adalah social engineering. Jadi, bukan bicara infrastrukturnya, kita bicara teknologi. Tapi literasi, pemahaman manusianya,” tambahnya.
Advertisement
Berdasarkan penjelasan dari Kaspersky, social engineering merupakan teknik penipuan secara psikologis untuk membuat korban memberikan informasi rahasia atau melakukan tindakan yang menguntungkan penyerang. Contohnya, phishing, vishing, smishing, impersonation, dan baiting.
Menurutnya, masyarakat perlu memiliki literasi digital yang kuat. Sebab, penipuan dapat menyerang siapa pun dan dari strata pendidikan apa pun.
Jika perangkat cukup canggih, namun pemahaman masyarakat terkait kehati-hatiannya di ruang digital kurang. Maka, mereka juga akan tetap menjadi korban.
Advertisement
“Kadang-kadang tidak berkaitan dengan tingkat pendidikan. Bisa jadi profesor, dokter, sebagainya bisa jadi korban juga. Tidak, ini bicara masalah kebiasaan,” tegasnya.
Global Fraud Index 2025
Berdasarkan Global Fraud Index 2025, negara dengan perlindungan dari fraud terendah di antarnya sebagai berikut.
108. Tanzania
Advertisement
109. India
110. Nigeria
111. Indonesia
Advertisement
112. Pakistan
Sedangkan, negara dengan perlindungan terbaik di antaranya sebagai berikut.
1. Luxembourg
Advertisement
2. Denmark
3. Finland
4. Norway
Advertisement
5. Belanda
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di
Google News.
Baca berita otomotif untuk perempuan di
Otodiva.id,
kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi
Gizmologi.id.
Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca
Traveldiva.id.
Indonesia Negara Kedua Paling Tidak Aman dari Penipuan, Ini Kata Komdigi – Nadhira Aliya Nisriyna