Fintech Dorong Ekonomi 2026, Amartha Perkuat UMKM Desa

Fintech Dorong Ekonomi 2026, Amartha Perkuat UMKM Desa
financial technology (fintech) justru menunjukkan peran yang semakin strategis. Bukan hanya sebagai penyedia layanan keuangan digital, fintech kini menjadi motor penggerak ekonomi inklusif—terutama bagi UMKM dan masyarakat perdesaan. Bagi paradiva, ini menjadi kabar baik bahwa transformasi digital mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, layanan keuangan digital seperti pembiayaan, pembayaran digital, dan investasi mikro berkontribusi hingga 80,5 persen terhadap inklusi keuangan nasional. Angka tersebut menegaskan bahwa fintech bukan sekadar tren, melainkan solusi nyata dalam memperluas akses keuangan.

Fintech Dorong Ekonomi 2026, Amartha Perkuat UMKM Desa 5

Salah satu pemain fintech yang konsisten mendorong ekonomi akar rumput adalah Amartha. Selama 16 tahun beroperasi, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal kerja kepada lebih dari 3,7 juta UMKM di lebih dari 50.000 desa. Khusus sepanjang 2025, pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp13,2 triliun.

Advertisement

Pertumbuhan ini tidak terjadi begitu saja. Amartha membangun layanannya berdasarkan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan masyarakat desa, termasuk perempuan pengusaha mikro yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Dukungan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) juga dimanfaatkan untuk menjaga kualitas portofolio dan mengelola risiko secara lebih presisi.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 perusahaan terus memperkuat posisinya sebagai penyedia layanan keuangan digital yang terintegrasi. Seluruh produk dirancang agar mudah diakses, relevan, dan benar-benar menjawab kebutuhan UMKM akar rumput.

“Produk kami lahir dari pemahaman terhadap tantangan nyata pelaku usaha mikro. Karena itu, penguatan tata kelola dan mitigasi risiko menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan kami,” ujarnya.

Advertisement

Langkah strategis lainnya ditunjukkan melalui perolehan izin dompet digital dari Bank Indonesia. Lewat satu aplikasi AmarthaFin, pengguna kini bisa mengakses investasi mikro, pembayaran digital, hingga pengajuan pinjaman modal kerja. Pendekatan ini dinilai cocok dengan karakter UMKM desa yang membutuhkan layanan praktis dan efisien.

Tak hanya fokus pada teknologi, Amartha juga membangun kedekatan komunitas melalui program AmarthaLink. Program ini memungkinkan pengguna menjadi agen pembayaran digital di lingkungan sekitarnya. Hingga akhir 2025, lebih dari 50.000 pengguna telah bergabung, memperluas akses layanan keuangan digital hingga ke pelosok desa.

Dari sisi kepercayaan investor, performa Amartha dinilai solid. Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menyebut bahwa model bisnis yang jelas, fokus pada perempuan pengusaha mikro, serta penerapan tata kelola berstandar tinggi menjadi daya tarik utama bagi investor nasional maupun global.

Advertisement

“Kinerja fundamental yang kuat tidak hanya meningkatkan kepercayaan investor, tetapi juga berdampak langsung pada penguatan ekonomi di level akar rumput,” ungkapnya.

Secara industri, fintech Indonesia masih menjadi magnet bagi pendanaan asing. Pada 2024, investasi global ke sektor fintech Indonesia tercatat mencapai US$549 juta. Angka ini menunjukkan optimisme investor terhadap potensi ekonomi digital nasional, meski kondisi global masih penuh tantangan.

Dampak positif fintech juga terlihat dari penciptaan lapangan kerja. Amartha mencatat UMKM mitra binaannya telah membuka lebih dari 110.000 lapangan kerja di desa. Sementara itu, sekitar 65 persen perusahaan fintech di Indonesia berencana menambah karyawan tetap, menandakan keyakinan industri terhadap prospek 2026.

Advertisement

Memasuki tahun depan, peluang fintech semakin terbuka, terutama saat kredit UMKM dari perbankan mengalami perlambatan. Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai pinjaman daring masih akan menjadi alternatif utama pembiayaan usaha.

“Ketika akses kredit konvensional terbatas, fintech hadir menjawab kebutuhan permodalan. Ini menjadi alasan mengapa pinjaman daring diprediksi tetap tumbuh hingga 2026,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kehadiran fintech mendorong tumbuhnya agen-agen keuangan di desa, membuka peluang usaha baru, sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Advertisement

Meski demikian, ekspansi fintech perlu diimbangi dengan mitigasi risiko. Tantangan seperti literasi keuangan, potensi fraud, dan ketidakpastian global menjadi pekerjaan rumah yang harus dikelola dengan hati-hati.

Menatap 2026, Amartha menegaskan komitmennya untuk terus mendukung UMKM desa agar tumbuh berkelanjutan. Fokus perusahaan tidak hanya pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja, penguatan komunitas, dan peningkatan kualitas hidup keluarga di perdesaan.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Amartha akan kembali menggelar Asia Grassroots Forum (AGF) 2026 pada Mei mendatang. Forum internasional ini akan mempertemukan investor global, pembuat kebijakan, dan pelaku industri dengan tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”, membahas kolaborasi strategis demi masa depan ekonomi akar rumput yang lebih sehat.

Advertisement

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di
Google News.
Baca berita otomotif untuk perempuan di
Otodiva.id,
kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi
Gizmologi.id.
Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca
Traveldiva.id.

Fintech Dorong Ekonomi 2026, Amartha Perkuat UMKM Desa – Herning Banirestu