Langkah ini diambil seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi AI yang kini semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya di sektor industri besar, AI juga mulai dimanfaatkan oleh kreator konten, pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM), pekerja media, hingga individu yang aktif di media sosial. Namun demikian, laju adopsi yang cepat ini belum sepenuhnya diiringi dengan literasi yang memadai.
Co-Founder AICO, Tommy Teja, menilai bahwa kreator dan pelaku industri kreatif perlu segera beradaptasi dengan perubahan ini. Menurutnya, ketertinggalan dalam memahami AI justru dapat menjadi hambatan serius di masa depan.
Advertisement
“Kreator yang tidak beradaptasi berisiko tertinggal. Padahal, AI justru membuka peluang besar karena mampu menekan biaya produksi, mempercepat proses kerja, dan tetap menghasilkan konten yang menarik, realistis, serta relevan. Bahkan, AI memungkinkan integrasi brand dilakukan secara lebih kreatif,” ujar Tommy dalam keterangan pers yang diterima pada Rabu.
Lebih lanjut, Tommy memprediksi bahwa mulai 2026, konten berbasis AI akan semakin mendominasi ekosistem media sosial. Hal ini tidak terlepas dari perubahan algoritma platform digital yang kini semakin dipengaruhi oleh kehadiran konten-konten hasil bantuan teknologi AI.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan AI memang berkembang sangat masif. Teknologi ini telah merambah hampir seluruh lini produksi konten, mulai dari pencarian ide, penulisan naskah, pembuatan visual, hingga produksi video hiper-realistis. Bahkan, AI kini memungkinkan distribusi konten dilakukan dalam skala besar dengan kecepatan yang nyaris mustahil dicapai oleh manusia secara manual.
Advertisement
Perubahan tersebut secara perlahan menggeser cara kerja kreator, media, dan pelaku usaha. Di satu sisi, AI membuka peluang efisiensi dan kreativitas tanpa batas. Namun di sisi lain, transformasi ini juga melahirkan model produksi konten yang benar-benar baru dan menuntut pemahaman yang lebih mendalam.
Meski demikian, di balik euforia pemanfaatan AI, tersimpan tantangan serius yang tidak bisa diabaikan. Rendahnya literasi digital, minimnya pemahaman publik mengenai cara kerja dan batasan AI, serta potensi penyalahgunaan teknologi menjadi bayang-bayang yang mengancam ekosistem digital.
Tanpa pemahaman yang memadai, AI berisiko disalahartikan sebagai jalan pintas instan, bukan sebagai alat strategis yang perlu digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, diskursus mengenai konten berbasis AI dinilai semakin krusial, tidak hanya untuk dibicarakan, tetapi juga untuk diedukasi secara kritis kepada masyarakat luas.
Advertisement
Menjawab kebutuhan tersebut, AICO memperkenalkan buku berjudul “Cara Bikin Konten AI”. Buku ini dirancang sebagai panduan praktis bagi masyarakat yang ingin memahami sekaligus memanfaatkan AI secara bertanggung jawab dalam proses pembuatan konten digital.
Buku tersebut menyasar beragam kalangan, mulai dari kreator konten, pekerja media, pelaku UMKM, pelajar, praktisi pemasaran, hingga masyarakat umum yang ingin beradaptasi dengan ekosistem digital modern. Dengan pendekatan yang aplikatif, buku ini mengulas alur produksi konten secara menyeluruh, dari tahap perencanaan ide hingga menghasilkan produk akhir.
Selain itu, pembahasan dalam buku juga dilengkapi dengan studi alur kerja (workflow) serta pemanfaatan berbagai tools AI yang saat ini populer dan banyak digunakan di industri kreatif. Dengan demikian, pembaca tidak hanya memahami konsep, tetapi juga dapat langsung mempraktikkannya.
Advertisement
“Kami ingin membantu UMKM, kreator konten, hingga individu dari berbagai latar belakang profesi agar mampu memanfaatkan AI secara optimal dan bertanggung jawab. Melalui buku ini, kami merancang formula pembelajaran yang praktis dan mudah diikuti,” kata Tommy.
Ia menambahkan, metode pembelajaran dalam buku ini tidak hanya terbatas pada bacaan teks. AICO juga menghadirkan rangkuman tools, QR code yang terhubung ke video tutorial, hingga akses praktik langsung. Tujuannya sederhana, agar siapa pun dapat mewujudkan ide dan imajinasi mereka menjadi konten nyata dengan bantuan AI.
Ke depan, AICO menegaskan komitmennya untuk terus mendorong edukasi, literasi, dan adopsi AI yang etis serta inklusif. Tidak hanya melalui penerbitan buku, AICO juga aktif menggelar diskusi publik, kelas edukasi, serta kolaborasi lintas sektor.
Advertisement
Melalui berbagai inisiatif tersebut, AICO berharap dapat menjembatani kesenjangan pemahaman antara teknologi kecerdasan artifisial dan masyarakat luas. Dengan demikian, AI tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi juga alat yang memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi perkembangan ekosistem digital di Indonesia.
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di
Google News.
Baca berita otomotif untuk perempuan di
Otodiva.id,
kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi
Gizmologi.id.
Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca
Traveldiva.id.
AICO Rilis Buku Panduan Konten AI, Dorong Literasi dan Adopsi Kecerdasan Artifisial di Masyarakat – Firda Zahara